Selasa, 13 November 2012

Kemampuan Generik Sains Pada Pembelajaran Fisika


Kemampuan Generik Sains Pada Pembelajaran Fisika


BAB I
PENDAHULUAN

A.  Latar Belakang
Memasuki milenium ketiga, lembaga pendidikan dihadapkan pada berbagai tantangan yang berkaitan dengan peningkatan mutu dan produk yang dihasilkannya. Di bidang sains, peningkatan mutu pendidikan sangat diperlukan, karena kehidupan masyarakat dipengaruhi oleh perkembangan sains dan teknologi. Sebagaimana dinyatakan oleh National Research Council (1996), bahwa di era sekarang ini (abad ke-21) dunia akan dipenuhi dengan produk sains dan teknologi yang membuat setiap orang membutuhkan pengetahuan sains dasar.
Persiapan sumber daya manusia yang berkualitas merupakan kunci untuk memetik kemenangan di era globalisasi ini. Tilaar (1999), menyebutkan ada tiga tuntutan SDM abad 21, yaitu (1) manusia yang unggul, (2) manusia yang terus menerus belajar, (3) manusia yang mengembangkan nilai.
Kurikulum Tingkast Satuan Pendidikan (KTSP) menjelaskan bahwa selain utnuk meningkatkan kecerdasan, pendidikan juga bertujuan meningkatkan keterampilan. Keterampilan sangat dibutuhkan untuk hidup mandiri dan mengikuti pendidikan lebih lanjut . Begitu pula dengan tujuan pembelajaran sains termasuk Fisika yaitu selain bertujuan membangun pengetahuan, belajar sains pada dasarnya harus melibatkan kegiatan aktif siswa yang berupaya membangun kemampuan/keterampilan dasar bekerja ilmiah.
Pada kenyataannya aspek pola pikir ini jarang sekali diperhatikan oleh guru karena faktor ketidaktahuan. Belajar sains mereka artikan sebagai suatu kegiatan sepenting menghafal suatu konsep atau melakukan operasi hitung. Hal ini terlihat dari cara guru membelajarkan materi sains khususnya fisika di sekolah secara tradisional dengan memfokuskan pembelajaran pada pelatihan rumus-rumus, latihan soal hitungan, dan menghafal konsep. Berkenaan dengan ini Liliasari (2007) menyatakan bahwa pembelajaran sains di Indonesia umumnya masih menggunakan pendekatan tradisional, yaitu siswa dituntut lebih banyak untuk mempelajari konsep-konsep dan prinsip-prinsip sains secara verbalistis. Pembelajaran sains secara tradisional ini masih berlangsung di banyak sekolah di Indonesia. Mereka mengajar sains hanya mengacu pada buku ajar yang dimilikinya tanpa ada penyesuaian dengan karakteristik peserta didiknya. Guru memandang bahwa model pembelajaran tradisional merupakan suatu prosedur yang efektif dalam membelajarkan materi sains. Padahal, model ini sesungguhnya hanya efektif dalam hal penggunaan waktu mengajar, tetapi pola pikir siswa yang inovatif dan kreatif dengan pola pikir tingkat tinggi serta kemampuan bekerja sama dengan orang lain secara efektif tidak terkembangkan.
Selanjutnya, kemampuan generik juga penting bagi siswa karena kemampuan ini sangat dibutuhkan oleh siswa dalam mengembangkan karir sesuai dengan bidang masing-masing. Kemampuan generik tidak diperoleh secara tiba-tiba melainkan keterampilan itu harus dilatih agar terus meningkat. Kemampuan generik sains merupakan kemampuan yang dapat digunakan untuk mempelajari berbagai konsep dan menyelesaikan masalah dalam sains (Brotosiswoyo, 2000). Oleh karena itu, kemampuan generik sains merupakan kemampuan yang digunakan secara umum dalam berbagai kerja ilmiah, dan dapat digunakan sebagai landasan dalam melakukan kegiatan laboratorium.
Tujuan pengembangan kemampuan generik sains yaitu agar pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh dari hasil belajar akan dapat diaplikasikan pada bidang kehidupan sosial, teknologi atau pada setiap perubahan konteks, namun yang lebih utama adalah menghasilkan efisiensi yang lebih besar melalui pengetahuan dan penggunaan keterampilan yang lebih efektif. Pengembangan kemampuan generik sains pada materi pembelajaran sains akan menghasilkan kemampuan generik sains tertentu sesuai karakteristik materi pembelajaran sains. Kemampuan generik sains yang dapat dikembangkan juga tergantung pada disiplin ilmu yang diberikan melalui penerapan proses pembelajaran.
Dalam pembelajaran fisika, ada empat komponen utama yang harus dicapai oleh siswa. Keempat komponen tersebut yaitu pemahaman, keterampilan, kemampuan, dan sikap ilmiah. Diharapkan, ketika semua komponen tersebut dikuasai oleh siswa, dapat memberi manfaat pada siswa untuk menambah wawasan, meningkatkan pola pikir dan sikap para siswa untuk bekal di masyarakat dan melanjutkan di pendidikan yang lebih tinggi. Keempat komponen tersebut dapat ditumbuhkembangkan melalui pengembangan kemampuan generik sains pada siswa.
Berdasarkan hal di atas, penulis tertarik untuk membuat suatu makalah yang menjelaskan tentang kemampuan generik sains, yang secara khusus dibahas pada materi Fisika. Dalam makalah ini akan dijelaskan tentang pengertian, indikator-indikator dalam kemampuan generik sains, manfaat pengembangan kemampuan generik sains, serta contoh pengembangan kemampuan generik sains pada materi fisika.
B.  Rumusan Masalah
            Berdasarkan latar belakang di atas, maka rumusan masalahnya adalah sebagai berikut :
1.      Bagaimana konsep dan indikator-indikator dalam kemampuan generik sains?
2.      Bagaimana pentingnya kemampuan generik sains dalam pembelajaran sains khususnya fisika?
3.      Bagaimana contoh pengembangan kemampuan generik sains pada mata pelajaran fisika?
C.  Tujuan Penulisan
            Tujuan penulisan makalah ini adalah untuk mendeskripsikan tentang :
1.      Konsep dan indikator keterampilan genrik sains.
2.      Pentingnya kemampuan generik sains dalam pembelajaran sains khususnya fisika.
3.      Contoh pengembangan kemampuan generic sains pada mata pelajaran fisika.






BAB II
ISI DAN PEMBAHASAN

A.  Definisi Kemampuan Generik Sains
Kemampuan generik sains adalah kemampuan yang bermanfaat dan penting untuk semua lulusan perguruan tinggi. Kemampuan generik sains relevan, berguna, dan menjadi penyokong pendidikan dan menjadi dasar untuk mendukung pembelajaran sepanjang hayat (life-long learning). Kemampuaan generik umum untuk semua lulusan, bukan spesifik milik bidang studi tertentu. Kemampuan generik disebut juga sebagai keterampilan yang dapat ditransfer mengacu pada keterampilan yang dikembangkan pada satu bidang (area) tertentu berfungsi sebagai dasar untuk adaptasi dan perkembangan ketika ditransfer ke bidang (area) lain. Beberapa ahli menyatakan pengertian kemampuan generik sebagai berikut :
a)      Kamsah (2004), keterampilan generik merupakan keterampilan employability yang digunakan untuk menerapkan pengetahuan. Keterampilan ini bukan keterampilan bidang pekerjaan tertentu, namun keterampilan yang melintasi semua bidang pekerjaan pada arah horizontal dan melintasi segala tingkatan mulai dari tingkat pemula hingga manajer eksekutif pada arah vertikal.
b)      National Skill Task Force (Pumphey dan Slater, 2002), bahwa keterampilan generik adalah keterampilan yang melintasi sejumlah pekerjaan yang berbeda.
c)      Kearns (dalam Yeung et al.,2007) mendefinisikan keterampilan generik sebagai keterampilan dan atributatribut untuk hidup dan bekerja.
d)     Yeung et al. (2007) menyatakan bahwa keterampilan generik sangat berguna untuk melanjutkan pendidikan dan kesuksesan karir.
                         Kemampuan generik dikenal dengan sebutan kemampuan kunci, kemampuan inti (core skill/core ability), kemampuan esensial, dan kemampuan dasa (Rahman, 2007). Kemampuan generik ada yang secara spesifik berhubungan dengan pekerjaan, ada juga yang relevan dengan aspek sosial.
Kemampuan generik dapat meliputi keterampilan: komunikasi, kerja tim, pemecahan masalah, inisiatif dan usaha (initiative and enterprise), merencanakan dan mengorganisasi, managemen diri, keterampilan belajar, dan keterampilan teknologi. Sementara itu, hal yang berkaitan dengan atribut personal meliputi: loyalitas, komitmen, jujur, integeritas, antusias, dapat dipercaya, sikap seimbang terhadap pekerjaan dan kehidupan rumah, motivasi, presentasi personal, akal sehat, penghagaan positif, rasa humor, kemampuan mengatasi tekanan, dan kemampuan adaptasi (Gibb dan Rahman, 2007).
Menurut Education and Manpower Bureau (2004) kemampuan generic merupakan dasar untuk membantu siswa belajar bagaimana belajar. Kemampuan generik dikembangkan melalui pembelajaran dan pengajaran dalam konteks subjek dan area yang berbeda, dan dapat ditransfer ke dalam situasi pembelajaran yang berbeda.
B.  Jenis Kemampuan Generik SAINS
Pada dasarnya, cara berpikir dan berbuat dalam mempelajari berbagai konsep SAINS dan menyelesaikan masalah, serta belajar secara teoritis di kelas maupun dalam praktik adalah sama, karena itu ada kompetensi generik. Kompetensi generik adalah kompetensi yang digunakan secara umum dalam berbagai kerja ilmiah.
Jika memperhatikan kompetensi dasar dalam standar kompetensi dari BSNP (Badan Standar Nasional Pendidikan), tampak bahwa yang dimaksud  dengan kompetensi dasar adalah kompetensi khusus yang berkaitan dengan suatu konsep. Kompetensi generik adalah kompetensi yang lebih luas darSainsda kompetensi dasar. Kompetensi generik merupakan kompetensi yang dapat digunakan untuk mempelajari berbagai konsep dan menyelesaikan berbagai masalah SAINS. Dalam satu kegiatan ilmiah misalnya kegiatan memahami konsep, terdiri dari beberapa kompetensi generik. Kegiatan-kegiatan ilmiah yang berbeda dapat mengandung kompetensi-kompetensi generik yang sama.
Di Hongkong, Curriculum Development Council mengidentifikasikan 9 jenis keterampilan generik meliputi
1)      Keterampilan kolaboratif
2)      Keterampilan komunikasi
3)      Kreativitas
4)      Keterampilan pemecahan masalah
5)      Keterampilan berpikir kritis
6)      Keterampilan numerasi
7)      Keterampilan teknologi informasi
8)      Keterampilan manajemen diri
9)      Keterampilan belajar (CDC Hongkong
Menurut Brotosiswoyo (2000) kemampuan generik SAINS dalam pembelajaran SAINS dapat dikategorikan menjadi 9 indikator yaitu : pengamatan langsung, pengamatan tak langsung, kesadaran tentang skala besaran, bahasa simbolik, kerangka logika taat asas, inferensi logika, hukum sebab akibat, permodelan matematika dan membangun konsep
C.  Indikator Kemampuan Generik Sains
           Bedasarkan jenis-jenis kemampuan generik yang dijelaskan di atas, ada beberapa indicator untuk mengetahui ketercapaian kemampuan generik sains. Macam-macam indicator tersebut dapat dilihat pada Tabel 1 di bawah ini.
Tabel 1. Indikator Kemampuan Generik Sains.
No
Kemampuan Generik SAINS
Indikator
1.
Pengamatan langsung
a.    Menggunakan sebanyak mungkin indera dalam mengamati percobaan/fenomena alam
b.    Mengumpulkan fakta-fakta hasil percobaan atau fenomena alam
c.    Mencari perbedaan dan persamaan
2.
Pengamatan tidak langsung
a.    Menggunakan alat ukur sebagai alat bantu indera dalam mengamati percobaan/gejala alam
b.    Mengumpulkan fakta-fakta hasil percobaan fisika atau fenomena alam
c.    Mencari perbedaan dan persamaan
3.
Kesadaran tentang skala
Menyadari obyek-obyek alam dan kepekaan yang tinggi terhadap skala numerik sebagai besaran/ukuran skala mikroskopis atau pun makoskopis
4.
Bahasa simbolik
a.   Memahami simbol, lambang, dan istilah
b.   Memahami makna kuantitatif satuan dan besaran dari persamaan
c.   Menggunakan aturan matematis untuk memecahkan masalah/fenomena gejala alam
d.  Membaca suatu grafik/diagram, tabel, serta tanda matematis
5.
Kerangka logika (logical frame)
Mencari hubungan logis antara dua aturan
6.
Konsistensi logis
a.   Memahami aturan-aturan
b.   Berargumentasi berdasarkan aturan
c.   Menjelaskan masalah berdasarkan aturan
d.  Menarik kesimpulan dari suatu gejala berdasarkan aturan/hukum-hukum terdahulu
7.
Hukum sebab akibat
a.   Menyatakan hubungan antar dua variabel atau lebih dalam suatu gejala alam tertentu
b.   Memperkirakan penyebab gejala alam
8.
Pemodelan Matematika
a.   Mengungkapkan fenomena/masalah dalam bentuk sketsa gambar/grafik
b.   Mengungkap fenomena dalam bentuk rumusan
c.   Mengajukan alternatif penyelesaian masalah

D.  Hubungan Jenis Konsep dengan Kemampuan Generik
Dengan berkembang pesatnya pengetahuan SAINS, maka pertambahan konsep-konsep SAINS yang perlu dipelajari siswa juga sangat besar. Sebagai akibatnya perlu ada pemilihan onsep-konsep esensial yang dipelajari siswa. Konsep-konsep esensial dipilih berdasarkan pada pentingnya konsep tersebut untuk kehidupan siswa dan pentingnya memberi pengalaman belajar tertentu kepada siswa, agar memperoleh bekal keterampilan generik SAINS yang memadai. Untuk menentukan pengetahuan SAINS yang perlu dipelajari siswa, pengajar perlu terlebih dahulu melakukan analisis konsep SAINS yang ingin dipelajari (Liliasari, 2007).
Analisis lebih lanjut dilakukan untuk menunjukkan hubungan antara jenis konsep-konsep SAINS dengan keterampilan generik SAINS yang dikembangkan. Secara lebih rinci, dapat dilihat pada Tabel 2 berikut.
Tabel 2. Hubungan Jenis Konsep dengan Kemampuan Generik Sains.
No
Kemampuan Generik SAINS
Konsep
1.
Pengamatan langsung
Konsep Konkrit
2.
Pengamatan langsung/ tak langsung, inferensi logika
Konsep  abstrak  dengan contoh konkrit
3.
Pengamatan tak langsung, inferensi logika
Konsep Abstrak
4.
Kerangla logika taat azas, hukum sebab akibat, inferensi logika
Konsep berdasarkan prinsip
5.
Bahasa simbolik, pemodelan matematika
Konsep yang menyatakan  simbol
6.
Pengamatan langsung/tak langsung, hukum sebab akibat, kerangka logika taat azas, inferensi logika
Konsep menyatakan proses
7.
Pengamatan langsung/ tak langsung, hukum sebab akibat, kerangka logika taat azas, inferensi logika
Konsep menyatakan sifat

Dalam mempelajari konsep-konsep SAINS dibekalkan kemampuan berpikir yang kompleks. Pada umumnya setiap konsep SAINS dapat mengembangkan lebih dari satu macam keterampilan generik SAINS, karena itu mempelajari konsep SAINS pada hakekatnya adalah mengembangkan keterampilan berpikir SAINS, yang merupakan berpikir tingkat tinggi (Liliasari dkk, 2007)
E.     Penjabaran Jenis Kemampuan Generik dan Contohnya Lewat Pembelajaran Fisika
1.      Pengamatan Langsung
Pengamatan langsung yaitu mengamati objek yang diamati secara langsung. Aspek pendidikan penting yang diperoleh dari melakukan pengamatan langsung adalah bersikap jujur terhadap hasil pengamata, serta sadar akan batas-batas ketelitian yang dilakukan. Contoh:
ü  Mengukur dampak percepatan gravitasi Bumi pada posisi benda saatdemi saat, misal di laboratorium fisika dasar, seperti alat atwood.
ü  Melihat dua sinar putih yang dilewatkan sebuah prisma mengahsilkanuraian warna-warna pelangi.
2.      Pengamatan Tak Langsung
Keterbatasan indra menyebabkan banyak gejala dan perilaku alam tidak dapat diamati secara langsung dan hanya dapat diketahui melalui pengukuran dengan menggunakan suatu alat tertentu. Contoh:
ü  Pada pokok bahasan listrik, merupakan salah satu objek alam yang ada tetapi tidak dapat dilihat, didengar, atau dicium baunya sehingga pengukuran dilakukan menggunakan alat seperti voltmeter, amperemeter, test-pen, dan lain-lain.
ü  Pada pokok bahasan fisika modern, topic-topik dalam fisika modern penuh dengan objek-objek yang tidak dapat dilihat mata, seperti molekul atom, proton, electron, dan sebagainya. Sebaiknya dalam mengajarkan materi ini, pengajar jujur akan ketakbisaan dalam melihat objek.
3.      Pemahaman Tentang Skala Besaran (Sense of Scale)
Ilmu fisika merupakan ilmu pengetahuan yang memiliki cakupan paling luas. Dalam skala ruang ukuran, objek yang digarap terentang dari yang sangat besar (jagat raya), sampai yang sangat kecil (elektron). Ilmu fisika juga membahas ukuran skala waktu yang sangat kecil seperti waktu paro dari pasangan positron-elektron. Padahal, mata kita hanya bisa membedakan signal yang muncul kira-kira 1/30 detik.
Mengacu pada contoh-contoh diatas, maka perlu ditanamkan  sense of scale. Tanpa kesadaran tentang  sense of scales, bahasan itu akan kurang dipahami makna konkretnya.
4.      Bahasa Simbolik
Banyak perilaku alam, khusunya perilaku yang dapat diungkapkan secara kuantitatif, yang tidak dapat diungkapkan dengan bahasa komunikasi sehari-hari. Sifat kuantitatif tersebut menyebabkan adanya keperluan untuk menggunakan bahasa yang kuantitatif juga. Dalam matematika, ada aljabar sederhana yang dapat digunakan. Misalnya pada materi optika geometri untuk melukiskan pembesaran atau pengecilan. Contoh lainnya, adalah persamaan diferensial untuk menggambarkan pergerakan suatu benda.
5.      Kerangka Logika Taat Azas
Matematika sebagai “bahasa” yang sangat cermat memiliki sifat yangmemudahkan kita menguji ketaat-azasan (self consistency). Ada keyakinan dalam ilmu fisika, berdasarkan pengalaman yang cukup panjang, bahwa aturan alam memiliki sifat taat-asas secara logika (logically self-consistent).
Sebagai contoh adalah keganjilan hukum mekanika newton dengan elektrodinamika Maxwell. Elektrodinamika meramalkan bahwa kecepatan gelombang elektromagnetik tidak akan terpengaruh oleh gerak sumber maupun pengamatnya, sedangkan  mekanika newton memperbolehkan kecepatan objek bertambah atau berkurang sesuai dengan gerak sunber atau pengamatnya. Keganjilan itu melahirkan teori relativitas enstein. Sehingga mekanika newton harus dikoreksi agar keduanya taat azas secara logika.
6.      Inferensi Logika
Keyakinan akan peran logika dalam pengendalian hukum-hukum alam menyebabkan matematika menjadi “bahasa” hokum alam yang sangat ampuh. Dari sebuah aturan yang diungkapkan dalam matematika, kita dapat menggali konsekuensi-konsekuensi logis yang dilahirkan melalui inferensi logika. Tanpa melihat bagaimana sesungguhnya makna konkretnya, langkah ini sering dilakukan dalam ilmu fisika. Inferensi merupakan kemampuan generik yang ditujukan untuk membuat suatu generalisasi atau mengambil suatu kesimpulan. Kesimpulan yang ditarik dapat berupa penjelasan atau interpretasi dari hasil suatu observasi atau suatu kajian atau berupa kesimpulan terhadap persoalan baru sebagai akibat logis dari kesimpulan-kesimpulan atau teori-teori yang ada, tanpa melihat bagaimana makna konkret sesungguhnya.
Contohnya adalah pada pembahasan relativitas enstein yang membahas kecepatan cahaya sampai pada kesimpulan bahwa ada ekivalensi antara massa benda dan energy (E=mc2). Hasil inferensi logika itu bukan ilusi belaka, karena percobaan konkret dalam alam ini ternyata menunjukan kebenaran kesimpulan dari inferensi logika enstein.
7.      Hubungan Sebab Akibat
Sebagian besar dari aturan fisika yang disebut “hukum” adalah hukum sebab akibat. Pada bagian-bagian tertentu dari ilmu fisika juga dikenal dengan istilah “korelasi” antara gejala alam, tetapi itu tidak disimpulkan sebagai sebab-akibat.  
Sebagai contoh, hukum faraday yang disimpulkan dari pengamatan empirik, yang menyatakan bahwa jika ada kumparan yang melingkari medan magnet, maka pada kumparan tersebut akan timbul arus listrik. Besarnya arus listrik yang timbul, sebanding dengan cepatnya perubahan medan magnet itu. Oleh karena itu, yang dilakukan adalah dengan secara sadar dan dengan variasi yang berbeda-beda, mengubah kuat perubahan medan magnet itu dan kemudian mengukur  besar arus yang terjadi. Pengamatan pada kumparan selalu menunjukkan bahwa arus listrik yang timbul tepat seperti yang dilukiskan oleh aturan tersebut. Berdasarkan contoh di atas, maka sebuah aturan dapat dinyatakan sebagai hukum sebab-akibat apabila ada “reproducibility” dari akibat sebagai fungsi dari penyebabnya, yang dapat dilakukan kapan saja dan oleh siapa saja.
8.      Pemodelan Matematika
Rumus-rumus yang melukiskan hokum-hukum alam dalam fisika adalah buatan manusia yang ingin melukiskan gejala dan perangai alam tersebut, baik dalam bentuk kualitatif maupun kuantitatif.  
Latihan pemodelan matematik gejala-gejala alam dapat diajarkan dengan membuat objek-objek yang sederhana. Sebagai contoh dalam fisika, dikenal peluruhan bahan radioaktif, penentuan penurunan besar suhu secangkir kopi panas, dan lain-lain.
9.      Membangun Konsep
Tidak semua gejala alam dapat dipahami dengan menggunakan bahasa sehari-hari. Seringkali kita membangun sebuah konsep atau pengertian baru yang tidak ada padanannya dengan pengertian-pengertian yang sudah ada. Sebagai contoh, istilah energy awalnya bukan istilah sehari-hari. Dari aturan mekanika newton, yang bertolak dari pengertian gaya, kemudian dibangunlah sebuah konsep energy yang didefinisikan sebagai ukuran sebuah potensi yang dapat dimanfaatkan untuk melakukan suatu kerja atau usaha. Namun, sekarang istilah ini memasyarakat dan dapat diartikan sebagai komoditi yang dapat diperdagangkan.

F.   Contoh Pengembangan Kemampuan Generik Sains pada Pelajaran Fisika
            Contoh pengembangan KGS pada pelajaran Fisika kali ini tentang pembelajaran materi “Gerak Lurus”. Banyak sekali aspek-aspek kemampuan generic sains yang dapat dikembangkan melalui pembelajaran materi “Gerak Lurus”. Deskripsi singkat mengenai pembelajaran ini beserta identifikasi KGS dapat dilihat pada Tabel 2 di bawah ini.
Tabel 3. Identifikasi KGS pada Materi Gerak Lurus Beraturan
Sub Topik
Gerak Lurus Beraturan
Konsep
Kecepatan Tetap
Uraian
Melalui pengkajian hasil percobaan, siswa dapat memahami konsep GLB serta dapat ,menggambar grafik hubungan x-t dan v-t, serta menginterpretasi grafik atau representasi ilmiah lainnya dan mengaplikasi pengetahuannya dalam beberapa kasus
KGS yang Teridentifikasi
Kemampuan menginferensi logika, Mendeskripsikan pengetahuan secara kualitatif atau kuantitatif , Menginterpretasi representasi ilmiah, Kemampuan mengaplikasikan konsep

Tabel 4. Identifikasi KGS pada Materi Gerak Lurus Berubah Beraturan
Sub Topik
Gerak Lurus Berubah Beraturan
Konsep
Percepatan Tetap
Uraian
Melalui pengkajian hasil percobaan, siswa dapat memahami konsep GLBB serta dapat ,menggambar grafik hubungan x-t, v-t, dan a-t serta menginterpretasi grafik atau representasi ilmiah lainnya dan mengaplikasi pengetahuannya dalam beberapa kasus
KGS yang Teridentifikasi
Kemampuan menginferensi logika, Mendeskripsikan pengetahuan secara kualitatif atau kuantitatif ,Menginterpretasi representasi ilmiah, Kemampuan mengaplikasikan konsep

G.  Manfaat Penggunaan Kompetensi Generik dalam Pembelajaran SAINS (SAINS)
                     Setiap kompetensi generik mengandung cara berpikir dan berbuat, karena itu akan memudahan guru dalam meningkatkan kompetensi generik siswa. Kompetensi generik terutama digunakan untuk meningkatkan kompetensi siswa dalam mempelajari fenomena alam dan belajar cara belajar. Karena kompetensi generik merupakan kompetensi yang digunakan secaraumum dalam berbagai kerja ilmiah, pembelajaran yang meningkatkan kompetensi generik siswa akan menghasilkan siswa-siswa yang mampu memahami onsep, menyelesaikan masalah, dan kegiatan ilmiah lain, serta mampu belajar sendiri dengan efektif dan efisien. Berikut ini manfaat penggunaan kompetensi generik dalam pembelajaran SAINS (SAINS) yaitu :
         Membantu guru mengetahui apa yang harus ditingkatkan pada siswa dan membelajarkan siswa dalam cara  belajar.
         Pembelajaran dengan memperhatikan konsep generik dapat digunakan untuk mempercepat pembelajaran.
         Dengan berlatih kompetensi generik, setiap siswa dapat mengatur kecepatan belajarnya sendiri.
         Meminimalisir miskonsepsi siswa. (Sunyono, 2009 dalam Rimatusodik, 2011)

                       





BAB III
PENUTUP

A.  Kesimpulan
1.    Kemampuan generik SAINS adalah kemampuan dasar yang ditumbuhkan melalui proses belajar yang bermanfaat dalam meniti karir dalam bidang yang luas, dimana terdapat 9 indikator kemampuan generik SAINS yaitu pengamatan langsung, pengamatan tidak langsung, kesadaran akan skala besaran, bahasa simbolik, kerangka logika taat asas, inferensi logika, kesadaran akan hukum sebab akibat, pemodelan matematika, membangun konsep.
2.    Kemampuan generik sains penting dalam pembelajaran fisika untuk meningkatkan kompetensi siswa dalam mempelajari fenomena alam dan belajar bagaimana cara belajar.
3.    Kemampuan generik sains dapat dikembangkan dalam pembelajaran fisika.

B.  Saran
1.    Guru harus mampu mengembangkan kemampuan generik SAINS melalui berbagai kegiatan pembelajaran yang berorientasi pada indikator-indikator kemampuan generik SAINS.
2.    Guru harus mampu membuat proses belajar mengajar yang dapat menumbuhkan kebermaknaan konsep yang didapat.








DAFTAR PUSTAKA

Abrucasto, J. 1988. Teaching Children Science. Englewood Cliffs: Prenticce Hill.
Brotosiswoyo, B. S (2001). Hakikat Pembelajaran MSAINS di Perguruan Tinggi  Fisika. Jakata: Pusat Antar Universitas Untuk Peningkatan Pengembangan Aktivitas Instruksional (PAU-PPAI) Dirjen Dikti.
Haryono. 2006. Model Pembelajaran Berbasis Peningkatan Keterampilan Proses SAINS. Jurnal Pendidikan Dasar VOL.7, NO.1, 2006: 1-13.
Idris, tengku. 2010. Analisis Sikap Ilmiah dan Keterampilan Proses SAINS Program Studi Pendidikan Biologi FKIP Universitas Riau Tahun Akademis 2009/2010. Skripsi: Program Studi Pendidikan Biologi FKIP UNRI.
Liliasari, et al. (2007). “Scientific Concepts and Generic Science Skill Relationship in The 21st Century Science Education”. Makalah pada Seminar Internasional I SPs UPI, Bandung.
Rahman, T et al (2007). “Peran Praktikum Dalam Membekali Kemampuan Generik pada Calon Guru”. Makalah pada Seminar Internasional Pendidikan SAINS I SPs UPI Bandung.
Rimatusodik, Reva. 2011. Profil Keterampilan Generik Siswa SMP dalam Praktikum Kerusakan Lingkungan Menggunakan Kotak Erosi. Skripsi. Program studi pendidikan biologi fpmSains upi.
Rezba, J.R. et.al.  .Learning And Assessing Science Process Skill. Virginia: Kendall/Hunt Publishing Company.
Rustaman,Y.N. et.al. 2005. Strategi Belajar Mengajar Biologi. Common TextBook JICA Edisi Revisi. Bandung: Jurusan Pendidikan Biologi FPMSAINS UPI.
Semiawan,C.T. et al. 1988. Pendekatan Keterampilan Proses, Bagaimana Mengaktifkan Siswa Belajar. Jakarta: Gramedia.
Semiawan, C.R. et.al. 1992. Pendekatan Keterampilan Proses. Jakarta: Gramedia
Widiasarana Indonesia.
Stiggins, R.J. 1994. Students Centered Classroom Assessment. New York: Merill, Imprint Of Macmillan College Publishing Company
Subali,  Bambang.  2010. Pengukuran Keterampilan Proses SAINS Pola Divergen Mata Pelajaran Biologi SMA Di Provinsi DIY dan Jawa Tengah.. Jurdik Biologi FMSAINS UNY Prosiding Seminar Nasional Biologi. 3 juli 2010.
Tilaar, H.A.R. 1999. Beberapa Agenda Reformasi pendidikan Nasional dalam Perspektif Abad 21. Magelang: Indonesia Tera.
Wulansari, S. 2011.Penggunaan Laboratorium Nyata, Virual dan Kombinasi Nyata Virtual Pada Kegiatan Praktikum Kultur Jaringan Untuk Meningkatkan Penguasaan Konsep dan Keterampilan Proses SAINS Siswa SMA. Thesis.  Program studi  PMSAINS Kosentrasi Biologi. UPI Bandung.
Education and Manpower Bureau (EMB). 2004. What is to be Learnt in the School Curricullum: Generic Skills. [online]. Tersedia: http//www.Edb.gov.hk/index.aspx?nodeID.[19 Maret 2008].














Lampiran 1

Kisi-kisi Instrument Soal Pengembangan Kemampuan Generik Sains
Mata pelajaran : Fisika
Topik               : Gerak Lurus (GLB dan GLBB)


Tabel 5. Kisi-kisi Instrument Soal Pengembangan Kemampuan Generik Sains
Indikator Penguasaan Konsep
Indikator KGS
Nomor Soal
Siswa mampu menjelaskan konsep GLB
Membangun konsep
1
Siswa mampu mengaplikasikan contoh GLB dalam kehidupan sehari-hari
Membangun konsep, kerangka logika taat azas, inferensi logika, hokum sebab akibat
1
Siswa mampu membedakan pengertian jarak dan perpindahan
Membangun konsep, kesadaran tentang skala besaran, permodelan matematika
2
Siswa mampu membedakan pengertian kecepatan dan kelajuan
Membangun konsep, permodelan matematika, pengamatan tak langsung,
3
Siswa mampu menggambarkan grafik hubungan v-t
tentang skala besaran, bahasa simbolik, inferensi logika
4
Siswa mampu mendefinisikan konsep jarak total, kecepatan rata-rata, dan percepatan rata-rata
Membangun konsep, permodelan matematika, inferensi logika
4
Siswa mampu membaca dan menganalisis grafik hubungan v-t
Pengamatan langsung, kesadaran skala besaran, inferensi logika, membangun konsep
5



Lampiran 2

Instrumen Soal Kemampuan Generik Sains

Mata pelajaran          : Fisika
Topik                          : Gerak Lurus (GLB dan GLBB)
1.      Dapatkah dialam ini, suatu benda bergerak lurus beraturan secara terus menerus? Berikan alasan beserta contoh dari jawaban yang anda kemukakan! (Skor 4)

2.      Pagi ini, Ani berangkat ke kampus dengan jalan kaki. Kampus ani, berada tepat di sebelah timur rumahnya yang berjarak 1 km. Ani berjalan melewati sebuah gang kecil, dimana gang tersebut tepat lurus menuju ke kampusnya. Ternyata, setelah berjalan sejauh 400 m, buku ani tertinggal di rumah dan ia memutuskan untuk kembali lagi kerumahnya.
Berdasarkan kejadian di atas, berapa jarak dan perpindahan yang ditempuh ani dari rumah ke kampusnya? (Skor 4)

3.      Sebuah kereta ekspres, berangkat dari stasiun Bandung ke stasiun Semarang dan langsung kembali lagi ke Stasiun Bandung. Dari Stasiun Bandung, kereta berangkat pukul 13.00 WIB dan sampai di Stasiun Semarang pukul 21.00 WIB. Kemudian, pada pukul 21.30 WIB, kereta berangkat kembali ke Stasiun Bandung, dan tiba di Stasiun Bandung pukul 05.30 WIB.  Jika jarak antara kedua Stasiun tersebut adalah 500 km, berapa kecepatan dan kelajuan yang dialami oleh kereta tersebut? (Skor 4)

4.      Sebuah mobil bergerak lurus dengan kecepatan awal 50 km/jam ke arah timur. Setelah bergerak selama 20 detik, kecepatan mobil berubah menjadi 70 km/jam ke arah timur. Lalu, 10 detik kemudian mobil kecepatan mobil berkurang menjadi 30 km/jam pada arah yang sama, dan selanjutnya mobil tersebut berhenti 5 detik kemudian. Beradasarkan keterangan tersebut,
a.    gambarkan grafik hubungan antara kecepatan dengan waktu tempuh mobil! (Skor 4)
b.      hitung jarak total yang ditempuh oleh mobil tersebut? (Skor 1.5)
c.       hitung besar kecepatan rata-rata mobil tersebut! (Skor 1.5)
d.      hitung besar percepatan rata-rata yang  dialami oleh mobil! (Skor 1.5)


5.      Diberikan sebuah ilustrasi gerak mobil seperti di bawah ini
Berdasarkaan ilustrasi grafik di atas, apa yang dapat kalian jelaskan tentang pergerakan benda, seandainya mula-mula mobil bergerak ke arah timur?
 
 







Tidak ada komentar:

Poskan Komentar